Sanggau, Aktualita.online – Kualitas proyek pemeliharaan jalan nasional di Kalimantan Barat kembali dipertanyakan. Ruas strategis Trans Kalimantan yang menghubungkan Kabupaten Sanggau, Sekadau, Sintang hingga Kapuas Hulu kembali mengalami kerusakan parah, meski baru sekitar satu bulan selesai diperbaiki menggunakan anggaran negara.
Kerusakan terjadi di titik Turunan Semboja, Kelurahan Bunut, Kabupaten Sanggau. Badan jalan tampak kembali amblas dan mengalami penurunan cukup serius. Ironisnya, lokasi tersebut sebelumnya baru saja dikerjakan pada April 2026 melalui proyek preservasi jalan nasional yang dibiayai APBN lewat sistem pengadaan e-katalog.
Fakta ini memunculkan kemarahan dan kecurigaan masyarakat. Pasalnya, proyek yang seharusnya menjamin keselamatan dan kelancaran arus transportasi justru diduga dikerjakan asal jadi tanpa menyentuh akar persoalan teknis di lapangan.
“Baru sebulan sudah amblas lagi. Ini bukan lagi soal cuaca atau kendaraan berat, tapi patut dipertanyakan kualitas pekerjaan dan pengawasannya,” ujar salah seorang pengguna jalan.
Masyarakat menilai pola kerusakan berulang di titik yang sama bukan lagi kejadian biasa, melainkan indikasi kuat adanya kegagalan konstruksi dan lemahnya pengawasan teknis. Jalan seolah hanya “dipoles” di permukaan untuk kepentingan administrasi proyek, sementara masalah utama di bawah struktur jalan dibiarkan tetap ada.
Hasil observasi di lapangan menunjukkan adanya dugaan kesalahan teknis fatal dalam metode penanganan jalan. Bahu jalan terlihat lebih tinggi dibanding badan jalan utama, sehingga air hujan tidak dapat mengalir keluar secara normal menuju drainase samping.
Kondisi tersebut membuat air terjebak di permukaan aspal dan terus meresap ke lapisan pondasi. Dalam jangka pendek, air menggerus material dasar jalan hingga menciptakan rongga di bawah permukaan. Akibatnya, badan jalan kembali turun, retak dan amblas setiap kali diguyur hujan deras.
Situasi ini dinilai sangat berbahaya karena ruas tersebut merupakan jalur vital Trans Kalimantan yang menjadi urat nadi distribusi logistik dan mobilitas masyarakat di wilayah timur Kalbar.
Jika jalur ini terganggu, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh:
- Kabupaten Sanggau sebagai pintu distribusi barang dan jasa,
- Kabupaten Sekadau sebagai jalur utama angkutan hasil perkebunan dan pertanian,
- Kabupaten Sintang sebagai pusat ekonomi kawasan timur Kalbar,
- hingga Kabupaten Kapuas Hulu yang bergantung penuh pada akses darat menuju wilayah perbatasan negara.
Masyarakat pun mempertanyakan keseriusan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat dalam mengawasi kualitas pekerjaan preservasi jalan nasional. Sebab, kerusakan berulang di titik yang sama dinilai mencerminkan buruknya perencanaan dan lemahnya kontrol mutu proyek.
“Kalau setiap tahun rusak lalu diperbaiki lagi tanpa solusi permanen, publik berhak curiga ini hanya jadi proyek berulang yang terus menghabiskan uang negara,” kritik warga.
Warga mendesak BPJN Kalbar dan kementerian terkait untuk tidak lagi melakukan penanganan tambal sulam yang bersifat sementara. Pemerintah diminta segera melakukan evaluasi total terhadap metode pengerjaan, kualitas material, sistem drainase, hingga pihak pelaksana proyek.
Selain itu, masyarakat meminta dilakukan audit teknis menyeluruh terhadap proyek preservasi jalan nasional di titik Turunan Semboja, termasuk menelusuri apakah terdapat kelalaian atau dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Apabila persoalan mendasar seperti sistem drainase dan kestabilan pondasi jalan terus diabaikan, maka kerusakan serupa dipastikan akan terus berulang. Akibatnya, negara terus dirugikan oleh proyek yang tidak pernah benar-benar selesai, sementara keselamatan pengguna jalan dan kelancaran ekonomi Kalimantan Barat terus berada di ujung ancaman.
Tim Red
